Kutilang Indonesia

Mencintai Burung Di Alam

Tanjung Puting, Maret 2008

Tanjung Puting, Maret 2008

Mengamati burung, barangkali…bukan hal yang susah.

Tetapi mengamati burung sebagai sebuah bagian dari tugas-tugas mulia para staff Taman Nasional…yang sehari-hari harus menjaga keutuhan kawasan dan terjaganya fungsi ekosistem di sana…tentu bukan main-main. Di tangan mereka itu, pengamatan burung menjadi (salah satu) alat yang penting, untuk dapat membaca kecenderungan kualitas ekosistem kawasan. Taman Nasional, bagaimanapun, adalah garda terdepan (alias benteng terakhir) dalam menjaga keutuhan hutan tropik Indonesia yang tinggal sisa-sisa.

Undangan untuk membantu proses peningkatan kemampuan para staff TN. Tanjung Puting dalam pemantauan burung di kawasan tersebut, adalah kesempatan yang sungguh menarik dalam turut serta menjaga sisa-sisa ekosistem tropika terakhir di Indonesia.

Semoga bermanfaat…..

pangkalanbun.jpg

Tanjung Puting, Maret 2008

Mau ke Tanjung Puting? Ini rutenya:

Dari Jakarta-Semarang ke Pangkalan Bun (pesawat terbang) atau dengan kapal laut dari Semarang ke Pangkalan Bun. Dengan kendaraan darat dari Pangkalan Bun ke Kumai sekitar 20 menit (8 km). Dari Kumai ke Tanjung Harapan menggunakan klotok selama 1,5-2 jam, atau dari Kumai ke Natai Lengkuas yang memakan waktu sekitar 4,5 jam.

Jika menggunakan perahu cepat, rute Kumai-Tanjung Harapan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam, rute Kumai-Camp Leakey selama 1,5 – 2 jam, dan rute Kumai-Natai Lengkuas selama 1,5 – 2 jam.

Lumayan jauh… Memang. Tapi asyiknya..gak ketulungan.

Tanjung Puting, Maret 2008

Mengamati burung, barangkali…bukan hal yang susah.

Tetapi mengamati burung sebagai sebuah bagian dari tugas-tugas mulia para staff Taman Nasional…yang sehari-hari harus menjaga keutuhan kawasan dan terjaganya fungsi ekosistem di sana…tentu bukan main-main. Di tangan mereka itu, pengamatan burung menjadi (salah satu) alat yang penting, untuk dapat membaca kecenderungan kualitas ekosistem kawasan. Taman Nasional, bagaimanapun, adalah garda terdepan (alias benteng terakhir) keutuhan hutan tropik Indonesia yang kini tinggal sisa-sisa.

Undangan untuk membantu proses peningkatan kemampuan para staff TN. Tanjung Puting dalam pemantauan burung di kawasan tersebut, adalah kesempatan yang sungguh menarik dalam turut serta menjaga sisa-sisa ekosistem tropika terakhir di Indonesia.

Semoga bermanfaat

Tinjomoyo, Februari 2008

Sungguh…

Aku
sangat ingin bisa membantu untuk dapat melestarikan burung-burung yang cantik itu, namun dengan hal-hal yang cukup sederhana. Senang sekali jika setiap hari tarian dan kicauan burung hadir di dekat rumah kita. Mungkin, aku akan menjadi semakin cinta terhadap mereka.

Jangan dikira kalau aku lantas akan menangkap burung-burung itu, dan kemudian mengurungnya di dalam sangkar. Tidak… Aku sudah mengalaminya sendiri kok…bahwa burung dan kicauannya tidak harus kita nikmati dengan membelenggu kebebasan sang burung, atau dengan membelinya di pasar burung lalu mengurungnya di dalam sangkar.

Di halaman rumah kita, bisa saja ditanam pepohonan, tanaman buah, bahkan tanaman berbunga di sekitar rumah. Dan otomatis burung akan datang sendiri. Tidak repot kan? Kita juga bisa membuat rumah-rumahan yang diperuntukkkan bagi burung di halaman rumah, dan lalu kita berikan pakan seperti serangga, biji-bijian, atau buah. Sambil merawat halaman rumah, dan santai bersama keluarga, kita bisa melihat secara langsung bagaimana burung-burung itu memamerkan keindahannya dari jarak dekat.

Aku berpikir… Bahwa dari hal-hal yang sederhana itu kita bisa berbuat banyak untuk membantu menjaga agar burung-burung tidak hilang, atau bahkan punah. Seperti juga ayah, ibu, dan keluargaku, burung-burung ini ingin menikmati kebebasan. Lagipula, kita masih bisa bersahabat dengan mereka tanpa harus merampas kebebasannya, bukan?

Aku ingin berbuat banyak… Tapi apa daya aku masih kecil. Bisa bantu aku?

Tinjomoyo, Februari 2008


Anak-anak ini sungguh membanggakan.

Dibandingkan dengan monokuler ini, ukuran tubuh mereka jelas terlalu kecil. Tetapi ini bukan halangan, untuk sebuah semangat. Ya…semangat mengamati burung di alam. Barangkali juga, ketertarikan dua gadis kecil ini mencerminkan keprihatinan. Mengapa burung-burung tak lagi mudah dijumpai di halaman belakang rumah mereka? Mengapa hutan-hutan dirusak dan burung-burung itu terpaksa mengungsi?

Apakah kita, yang remaja dan yang lebih dewasa juga sama prihatinnya dengan mereka?

Tinjomoyo, Februari 2008

Hutan sekunder di kawasan Tinjomoyo, merupakan gambaran nyata tentang keberhasilan pemulihan landscape hutan dataran rendah di Kota Semarang. Upaya penanaman aneka jenis tanaman berkayu di areal yang dulunya gersang–dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan–ini telah mulai menampakkan hasilnya.

Kini, kawasan Tinjomoyo tertutup rapat oleh tajuk pepohonan, menjadikan lingkungan di tempat ini jauh lebih segar dan sejuk–yang bisa dirasakan bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Tinjomoyo, Februari 2008

Di tengah bising dan pengap serta panasnya udara kota Semarang, kawasan Tinjomoyo menjadi alternatif terbaik sebagai ruang publik perkotaan.

Lembah yang didominasi oleh hutan sekunder di wilayah Kecamatan Banyumanik ini persis berada di tepian Kali Garang, sebuah sungai yang memilik peran penting bagi kehidupan warga kota lumpia ini.

Meski tak lagi menjadi pilihan utama wisata Semarang, sesungguhnya keberdaan kawasan ini dapat dioptimalkan, khususnya bagi pengembangan pola ruang terbuka hijau. Bentang alam Tinjomoyo patut dipertahankan, bukan hanya sebagai areal wisata di Kota Semarang, namun lebih jauh dapat dilengkapi dengan fungsinya sebagai laboratorium pengembangan landscape lahan kering. Kekayaan habitat hutan sekunder dalam luasan yang kompak, diyakini dapat mendukung stabilitas ekosistem mikro, suatu fenomena yang amat jarang terjadi di wilayah kota-kota besar.

Tinggal terpulang kepada kita, bagaimana sisa-sisa kehijauan ini tidak tergerus oleh pembangunan fisik belaka. Warga Semarang dan daerah sekitarnya tentu tidak hanya merindukan gedung-gedung megah dan jalan raya lebar yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Mereka, barangkali, merindukan hadirnya sebuah oase. Dan kawasan Tinjomoyo adalah oase itu.

(Lestarikan Tinjomoyo kini dan nanti)

Tinjomoyo, Februari 2008

Catatan yang berserak, coba dikumpulkan… Bukan untuk apa-apa, hanya sebagai cara termudah untuk mengingat dan bercermin. Bahwa kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama mahluk ciptaan Tuhan. Burung-burung yang hidup di sekitar kita, yang kini mulai jarang bahkan sebagian tak nampak lagi.

Kita tahu, burung-burung itu-pun telah memberikan jauh lebih banyak kepada kita…selama ini.

Burung-burung Terbang

pycnonotus-aurigaster02.jpg

Seringkali kita menyaksikannya…di belakang halaman rumah kita, di hutan-hutan, atau bahkan di pasar burung kicauan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.