Di tengah bising dan pengap serta panasnya udara kota Semarang, kawasan Tinjomoyo menjadi alternatif terbaik sebagai ruang publik perkotaan.
Lembah yang didominasi oleh hutan sekunder di wilayah Kecamatan Banyumanik ini persis berada di tepian Kali Garang, sebuah sungai yang memilik peran penting bagi kehidupan warga kota lumpia ini.
Meski tak lagi menjadi pilihan utama wisata Semarang, sesungguhnya keberdaan kawasan ini dapat dioptimalkan, khususnya bagi pengembangan pola ruang terbuka hijau. Bentang alam Tinjomoyo patut dipertahankan, bukan hanya sebagai areal wisata di Kota Semarang, namun lebih jauh dapat dilengkapi dengan fungsinya sebagai laboratorium pengembangan landscape lahan kering. Kekayaan habitat hutan sekunder dalam luasan yang kompak, diyakini dapat mendukung stabilitas ekosistem mikro, suatu fenomena yang amat jarang terjadi di wilayah kota-kota besar.
Tinggal terpulang kepada kita, bagaimana sisa-sisa kehijauan ini tidak tergerus oleh pembangunan fisik belaka. Warga Semarang dan daerah sekitarnya tentu tidak hanya merindukan gedung-gedung megah dan jalan raya lebar yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Mereka, barangkali, merindukan hadirnya sebuah oase. Dan kawasan Tinjomoyo adalah oase itu.
(Lestarikan Tinjomoyo kini dan nanti)